Selasa, 21 April 2015

HUKUM PUASA DI BULAN RAJAB?

Gara-gara Puasa Rajab Dianggap Bid'ah Lantas Kita Masuk Neraka?

| kirim pertanyaan

Assalamu 'alaikum wr. wb.

Beberapa hari ini banyak beredar fatwa yang mengharamkan kita puasa di bulan Rajab. Sebab puasa di bulan Rajab dianggap puasa orang jahiliyah, oleh karena itu siapa yang puasa di bulan Rajab berarti dia telah meniru-niru orang kafir, menambah-nambah agama serta berbuat bid'ah. Dan perbuatan bid'ah itu semuanya sesat. Dan kalau sesat berarti masuk neraka.

Terus terang saya agak terkejut juga dengan fatwa main ancam begini. Memangnya sebegitu kakunya agama Islam ini, sampai-sampai orang mau puasa diancam-ancam masuk neraka? Memang tidak ada ulama yang bisa menjawab dengan adil dan tidak berart sebelah?

Bukan apa-apa, sebab di kampung saya para kiyai dan guru mengaji malah mengajurkan kita mengamalkan amalan-amalan tertentu di bulan Rajab ini. Tentu mereka punya dalil juga, kan?

Jadi mohon buat Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.,MA beri kami pencerahan terkait dengan urusan amalan-amalan di bulan Rajab ini. Apakah memang hukumnya cuma bid'ah melulu, ataukah ada juga pendapat yang berbeda?

Demikian dan syukran jazila.

Wassalam

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya masalah puasa di bulan Rajab itu bukan masalah yang disepakati kebid'ahannya. Memang benar banyak sekali beredar fatwa-fatwa yang membid'ahkan, tetapi kalau kita perhatikan sekian banyak fatwa itu, isi dan sumbenya cuma sebatas itu-itu saja.

Padahal sebenarnya para ulama masih berbeda pendapat tentang hukum berpuasa di bulan Rajab. Sebagian kalangan menetapkan bahwa hukumnya sunnah, sebagian lagi bilang makruh dan ada juga yang bilang haram atau bid'ah. Berikut ini petikan fatwa-fatwa mereka yang berbeda-beda.

1. Bid'ah

Ada beberapa fatwa dari para ulama khalaf (kontemporer) yang mengatakan bahwa puasa di bulan Rajab hukumnya bid'ah. Diantaranya fatwa Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan juga Syeikh Shalif Fauzan. Kebanyakan dari mereka inilah berbagai situs dan tulisan di internet yang membid'ahkan puasa Rajab itu mengambil sumber tulisan.

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (w. 1420 H) ketika ditanya terkait dengan berpuasa pada tanggal 8 dan 27 Rajab menjawab di dalam kitabnya Fatawa Nurun 'ala Ad-Darbi sebagai berikut :

ﺗﺨﺼﻴﺺ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ ﺑﺪﻋﺔ ﻓﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺼﻮﻡ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺜﺎﻣﻦ ﻭﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﻭﺍﻟﻌﺸﺮﻳﻦ ﻭﻻ ﺃﻣﺮ ﺑﻪ ﻭﻻ ﺃﻗﺮﻩ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ

Mengkhususkan hari-hari itu dengan puasa adalah bid'ah. Nabi SAW tidak pernah berpuasa pada tanggal 8 dan 27 Rajab, tidak memerintahkannya dan tidak mentaqrirnya. Maka hukumnya bid'ah. [1]

Ibnu Utsaimin (w. 1421 H) ketika ditanya tentang hukum puasa pada tanggal 27 Rajab dan shalat sunnah di malam harinya, beliau pun menjawab sebagaimana yang tertuang di dalam kitabnya Majmu' Fatawa wa Rasail Fadhilatusysyeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin sebagai berikut :

ﺻﻴﺎﻡ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺴﺎﺑﻊ ﺍﻟﻌﺸﺮﻳﻦ ﻣﻦ ﺭﺟﺐ ﻭﻗﻴﺎﻡ ﻟﻴﻠﺘﻪ ﻭﺗﺨﺼﻴﺺ ﺫﻟﻚ ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ .

Puasa pada hari ke 27 bulan Rajab dan bangun malam dan mengkhususkan hal itu adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah itu sesat.[2]

Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan di dalam kitab Majmu' Fatawa Fadhilatusysyeikh Shalih bin Fauzan menuliskan sebagai berikut :

ﺷﻬﺮ ﺭﺟﺐ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﻓﻴﻪ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺍﺕ ﺧﺎﺹ، ﻻ ﺻﻴﺎﻡ ﻭﻻ ﺻﻼﺓ ﻭﻻ ﻋﻤﺮﺓ، ﻭﻻ ﺷﻲﺀ ﺧﺎﺹ ﺑﺸﻬﺮ ﺭﺟﺐ، ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺨﺼﻮﻧﻪ ﺑﻌﺒﺎﺩﺍﺕ؛ ﻫﺆﻻﺀ ﻫﻢ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ

Tidak ada landasan kuat untuk ibadah khusus di Bulan Rajab, tidak itu puasa, shalat ataupun umrah. Tidak ada yang khusus dengan bulan Rajab. Mereka yang mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah adalah tukang bid'ah. [3]

2. Makruh

Pendapat kedua hukumnya adalah makruh, yaitu pendapat dari sebagain para ulama salaf, khususnya mazhab Al-Hanabilah. Dalam hal ini fatwa kemakruhannya terwakili oleh ulama mazhab ini, seperti Ibnu Qudamah dan Al-Mardawi.

Ibnu Qudamah (w. 620 H) salah satu ulama rujukan dalam mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

ﻓﺼﻞ - ﺇﻓﺮﺍﺩ ﺭﺟﺐ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ : ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺇﻓﺮﺍﺩ ﺭﺟﺐ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ: ﻭﺇﻥ ﺻﺎﻣﻪ ﺭﺟﻞ، ﺃﻓﻄﺮ ﻓﻴﻪ ﻳﻮﻣﺎ ﺃﻭ ﺃﻳﺎﻣﺎ، ﺑﻘﺪﺭ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺼﻮﻣﻪ ﻛﻠﻪ. ﻭﻭﺟﻪ ﺫﻟﻚ، ﻣﺎ ﺭﻭﻯ ﺃﺣﻤﺪ، ﺑﺈﺳﻨﺎﺩﻩ ﻋﻦ ﺧﺮﺷﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺮ، ﻗﺎﻝ: ﺭﺃﻳﺖ ﻋﻤﺮ ﻳﻀﺮﺏ ﺃﻛﻒ ﺍﻟﻤﺘﺮﺟﺒﻴﻦ، ﺣﺘﻰ ﻳﻀﻌﻮﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﻌﺎﻡ. ﻭﻳﻘﻮﻝ: ﻛﻠﻮﺍ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﺷﻬﺮ ﻛﺎﻧﺖ ﺗﻌﻈﻤﻪ ﺍﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ

Pasal Mengkhususkan Rajab Untuk Puasa : Dan dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa. Imam Ahmad berkata bahwa kalau mau seseorang berpuasa sehari dan tidak puasa sehari tetapi jangan puasa sebulan. Dasarnya adalah hadits riwayat Ahmad dari Kharsayah bin Al-Hurri, dia berkata,"Aku melihat Umar memukul telapak tangan orang yang mutarajjibin (puasa di bulan Rajab) sambil berkata,"Makanlah". Karena bulan Rajab itu bulan yang diagungkan oleh orang Jahiliyah [4]

Al-Mardawi (w. 885 H) salah satu ulama dalam mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Inshaf sebagai berikut :

ﻗﻮﻟﻪ (ﻭﻳﻜﺮﻩ ﺇﻓﺮﺍﺩ ﺭﺟﺐ ﺑﺎﻟﺼﻮﻡ) ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ

Pendapatnya mengkhususkan puasa Rajab (sebulan penuh) hukumnya makruh. Itulah pendapat mazhab dan para pendukungnya.[5]

3. Sunnah

Sebagian besar ulama (jumhur) di luar mazhab Al-Hanabilah umumnya justru menghukumi sunnah berpuasa pada bulan Rajab. Walaupun dari sisi hadits-hadits yang tersedia banyak yang dianggap dhaif. Namun manhaj salaf yang asli dari umat ini jelas sekali, yaitu hadits shahih masih bisa dijadikan sumber rujukan, khususnya untuk fadhailul-a'mal (keutamaan).

Setidaknya jumhur ulama punya dua hujjah. Pertama, adanya hadits yang menganjurkan untuk berpuasa sunnah. Kedua, adanya hadits yang menganjurkan untuk puasa pada bulan-bulan haram (mulia). Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Harits yang bertanya kepada beliau SAW tentang puasa sunnah.

ﺻُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺍﻟﺼَّﺒْﺮِ ﻭَﺛَﻼﺛَﺔَ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻭَﺻُﻢْ ﺃَﺷْﻬُﺮَ ﺍﻟْﺤُﺮُﻡِ

Berpuasalah kamu di bulan kesabaran (Ramadhan), kemudian berpuasalah 3 hari setelahnya, dan kemudian puasalah pada bulan-bulan haram”. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Bulan-bulan haram itu adalah Dzul-Qa'dah, Dzulhijjah, Muharram dan bulan Rajab yang menyendiri. Tetapi jelas sekali bahwa Rajab termasuk salah satu di antara empat bulan haram. Sehingga dasar berpuasa di bulan Rajab adalah hadits shahih di atas.

Adapun para ulama yang membolehkan atau malah menyunnahkan puasa di bulan Rajab antara lain Ibnu Shalah, Al-Izz Ibnu Abdissalam, As-Sututhi, Ibnu Hajar Al-Haitsami, Ash-Shawi, dan juga Asy-Syaukani serta masih banyak lagi yang lainnya. Mari kita lihat fatwa mereka dengan adil :

Ibnu Shalah (w. 643 H), yang juga salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi’iyyah menuliskan dalam fatwanya, Fatawa Ibnu Shalah sebagai berikut :

ﻻ ﺇﺛﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻭﻟﻢ ﻳﺆﺛﻤﻪ ﺑﺬﻟﻚ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻷﻣﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﻧﻌﻠﻤﻪ ﺑﻠﻰ ﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺣﻔﺎﻅ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﻓﻲ ﻓﻀﻞ ﺻﻮﻡ ﺭﺟﺐ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﻱ ﻓﻀﻞ ﺧﺎﺹ ﻭﻫﺬﺍ ﻻ ﻳﻮﺟﺐ ﺯﻫﺪﺍ ﻓﻲ ﺻﻮﻣﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻭﺭﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ ﻓﻲ ﻓﻀﻞ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﻮﺍﺭﺩ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺴﻨﻦ ﻷﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻓﻲ ﺻﻮﻡ ﺍﻷﺷﻬﺮ ﺍﻟﺤﺮﻡ ﻛﺎﻑ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﻓﻲ ﺻﻮﻣﻪ ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻓﻲ ﺗﺴﻌﻴﺮ ﺟﻬﻨﻢ ﻟﺼﻮﺍﻣﻪ ﻓﻐﻴﺮ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻻ ﺗﺤﻞ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

Tidak berdosa bagi yang berpuasa Rajab, dan tidak ada satupun ulama umat ini yang mengatakan ia berdosa dari yang kami tahu. Ya memang benar banyak ahli hadits yang mengatakan hadits-hadits rajab –secara khusus- tidak shahih. Dan ini tidak menjadikan puasa Rajab itu terlarang, karena adanya dalil-dalilnya anjuran puasa secara mutlak, dan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dadud dalam kitab Sunan-nya juga ulama lain dalam anjuran puasa pada bulan Rajab, dan itu cukup untuk memotivasi umat ini untuk puasa Rajab. Sedangkan hadits nyalanya api neraka Jahannam untuk mereka yang sering berpuasa Rajab, itu hadits yang tidak shahih, dan tidak dihalalkan meriwayatkannya. Wallahu a’lam.[6]

Al-'Izz ibnu Abdissalam (w. 660 H) juga punya pendapat yang dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Haitsami, dimana beliau berfatwa sebagai berikut :

ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﺻﻮﻣﻪ ﺟﺎﻫﻞ ﺑﻤﺄﺧﺬ ﺃﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻭﻛﻴﻒ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻨﻬﻴﺎ ﻋﻨﻪ ﻣﻊ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺩﻭﻧﻮﺍ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ ﺃﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﺍﻧﺪﺭﺍﺟﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﻜﺮﻩ ﺻﻮﻣﻪ

Orang yang melarang puasa Rajab itu jahil dari sumber-sumber hukum syariah. Bagaimana bisa puasa rajab diharamkan, sedangkan para ulama yang men-tadwin-kan syariah ini tidak satu pun dari mereka yang membenci puasa rajab tersebut. [7]

Nampaknya fatwa beliau juga senada, yaitu tindakan melarang orang berpuasa pada bulan Rajab adalah kebodohan, karena tidak ada ulama yang melarang itu.

As-Suyuthi (w. 911 H) ketika menjelaskan hadits-hadits terkait dengan puasa bulan Rajab, beliau menyimpulkan bahwa hadits-hadits itu bukan hadits palsu, melainkan sekedar dhaif. Dan tetap dibolehkan periwayatannya untuk keutamaan amal. Beliau menuliskan dalam fatwanya itu pada kitab Al-Hawi lil Fatawa sebagai berikut :

ﻟﻴﺴﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺑﻤﻮﺿﻮﻋﺔ، ﺑﻞ ﻫﻲ ﻣﻦ ﻗﺴﻢ ﺍﻟﻀﻌﻴﻒ ﺍﻟﺬﻱ ﺗﺠﻮﺯ ﺭﻭﺍﻳﺘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻀﺎﺋﻞ

Semua hadits ini bukan palsu (maudhu'), melainkan termasuk lemah (dhaif) yang dibolehkan periwayatannya untuk keutamaan (fadhail).[8]

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) dalam fatwanya yang terkumpul dalam kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra menuliskan sebagai berikut

ﺃﻧﻲ ﻗﺪﻣﺖ ﻟﻜﻢ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻛﻔﺎﻳﺔ، ﻭﺃﻣﺎ ﺍﺳﺘﻤﺮﺍﺭ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﻬﻲ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻦ ﺻﻮﻡ ﺭﺟﺐ ﻓﻬﻮ ﺟﻬﻞ ﻣﻨﻪ ﻭﺟﺰﺍﻑ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻟﻤﻄﻬﺮﺓ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﺇﻻ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻰ ﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻟﻤﻄﻬﺮﺓ ﺯﺟﺮﻩ ﻭﺗﻌﺰﻳﺮﻩ ﺍﻟﺘﻌﺰﻳﺮ ﺍﻟﺒﻠﻴﻎ ﺍﻟﻤﺎﻧﻊ ﻟﻪ ﻭﻷﻣﺜﺎﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺠﺎﺯﻓﺔ ﻓﻲ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ

Sudah saya jelaskan tentang kesunahan puasa Rajab, dan itu sudah cukup. Adapun tindakan 'ahli fiqih' ini yang terus menerus melarang orang-orang untuk puasa Rajab, itu adalah sebuah kebodohan dan bentuk pengacak-acakan terhadap syariah yang suci ini. kalau ia tidak merujuk fatwanya tersebut, wajib hukumnya bagi para hakim syariah yang suci ini untuk melarangnya dan memberikan hukuman yang keras baginya dan juga bagi orang-orang semisalnya –yang melarang puasa Rajab- karena mereka semua sudah mengacak-acak agama Allah SWT ini.[9]

Dari fatwanya kita mendaptkan kesan bahwa beliau mengecam keras mereka yang melarang umat untuk berpuasa Rajab. Konon di masa hidupnya, ada beberapa orang yang mengaku ahli agama tetapi melarang-larang puasa Rajab dengan alasan.

Imam Ash-Shawi (w. 1241 H) dari kalangan ulama mazhab Al-Malikiyah dalam kitabnya Bulghatus-Salik ketika menjelaskan tentang puasa-puasa sunnah, beliau memasukkan di dalamnya puasa Rajab.

ﻭﺻﻮﻡ ﺭﺟﺐ : ﺃﻱ ﻓﻴﺘﺄﻛﺪ ﺻﻮﻣﻪ ﺃﻳﻀﺎ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﺣﺎﺩﻳﺜﻪ ﺿﻌﻴﻔﺔ ﻷﻧﻪ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻓﻲ ﻓﻀﺎﺋﻞ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ

Puasa Rajab: yakni dikuatkan (untuk kesunahan) puasa Rajab juga walaupun hadits-haditsnya dhaif, karena hadits dhaif boleh diamalkan dalam hal fadhail a’mal.[10]

Asy-Syaukani (w. 1250 H) dalam kitabnya Nailul Authar mengomentari hadits-hadits terkait dengan puasa bulan Rajab sebagai berikut :

ﻇﺎﻫﺮ ﻗﻮﻟﻪ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﺇﻥ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺷﻬﺮ ﻳﻐﻔﻞ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻴﻦ ﺭﺟﺐ ﻭﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺻﻮﻡ ﺭﺟﺐ

Pemahaman yang dzahir dari hadits Usamah (bin Zayd) di atas adalah bahwa bulan Sya'ban adalah bulan yang banyak dilupakan orang yang letaknya antara bulan Rajab dan Ramadan. Dan bahwa sunnah hukumnya berpuasa pada bulan Rajab.[11]

Jadi kesimpuannya bahwa puasa bulan Rajab ini memang ada kalangan yang membid'ahkannya. Pendapat ini wajib kita hormati. Namun ada juga yang tidak sampai membid'ahkannya, hanya sebatas makruh saja. Pendapat ini juga wajib kita hormati. Dan jangan lupa, ada juga pendapat yang membolehkan atau malah menyunnahkannya. Pendapat yang terakhir ini pun juga wajib kita hormati.

Tidak perlu ada yang merasa paling pintar dan paling tinggi imannya, apalagi merasa paling benar dan pendapat orang lain yang berbeda tidak perlu dijelek-jelekkan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Sumber: www.rumahfiqih.com