Kamis, 09 April 2015

JELAJAH SEJARAH KE MUSEUM JENDERAL SUDIRMAN

Magelang- Selesai dari Pasar kebonpolo, siswa-siswi kelas satu Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Ihsanul Fikri Kota Magelang melanjutkan kunjungan belajar bersejarah ke Museum Jenderal Sudirman di Jalan Ade Irma Suryani C7, berseberangan jalan dengan Taman Badaan Kota Magelang (9/4). Kunjungan ini bertujuan memperkenalkan sejarah hidup pahlawan yang terkenal siasat perang gerilyanya, yaitu Jenderal Sudirman. Kunjungan dimulai pukul 09.00 selesai pukul 10.00 WIB. 
Bagian Ruang Tamu- Siswa-siswi SDIT Ihsanul Fikri terlihat antusias dalam menyimak penyampaian kisah Panglima Besar Jenderal Sudirman dari konservator.
Ustadzah Kriswati, selaku guru pendamping mengungkapkan bahwa agenda kunjungan siswa SDIT Ihsanul Fikri ke museum  rutin dilakukan setiap tahunnya. Belajar jelajah sejarah Ini merupakan salah satu metode pembelajaran efektif untuk melihat langsung tempat maupun benda-benda bersejarah bagi anak. Ditambahkan juga oleh Ustadzah Anisa, selaku wali kelas 1E bahwa,  “Kegiatan belajar di luar kelas merupakan rangkaian kegiatan kunjungan yang diperuntukkan bagi kelas satu yang berjumlah 157. Kegiatan ini bertujuan agar anak lebih mengenal para pahlawan kemerdekaan Indonesia”, jelas ustadzah Anisa.
Kunjungan belajar bersejarah anak-anak SDIT Ihsanul Fikri ini disambut baik oleh Muhammad Ardani (25) selaku satu-satunya konservator di Museum Jenderal Sudirman. Ardani sendiri telah mengabdi selama tujuh tahun di museum Jenderal Sudirman ini. Ardani mengungkapkan kegembiraannya, “kunjungan adik-adik SDIT Ihsanul Fikri ini menciptakan suasana Museum menjadi meriah, karena biasanya museum hanya  ramai di waktu-waktu tertentu, misalnya di awal atau akhir semester tahun ajaran baru.”.
Ardani juga mengungkapkan bahwa media belajar melalui kunjungan dapat melatih anak untuk mengetahui dan mengenal tokoh yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia.  Museum Sudirman merupakan salah satu tempat bersejarah yang berdiri sejak 40 tahun lalu, tepatnya berdiri pada 27 Februari 1975. “Ketika itu diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Pak Supardjo Rustam”, terang Ardani.
Bagian ruang kerja Jenderal Sudirman- Siswa-siswi tengah asyik melihat isi meja kerja sang Panglima bersama seorang guru pendamping mereka.
Sebagai museum umurnya baru empat puluh tahun, tetapi sesungguhnya bangunannya sendiri telah berusia kurang lebih delapan puluh lima tahun, jelas Ardani. Bangunan ini mempunyai tujuh ruang, terdiri dari ruang tamu, ruang kerja, ruang dokter pribadi, kamar tidur, tempat pemandian jenazah, ruang makan dan ruang dapur. Mengetahui hal ini, anak-anak  semakin ingin tahu dan aktif bertanya baik kepada guru pendamping maupun kepada Ardani sang konservator. (YIF)