Senin, 13 April 2015

KENALKAN JIWA WIRAUSAHA, ANAK-ANAK TKIT ASY SYAFFA BERMAIN PERAN SEBAGAI KOKI HINGGA MANAGER




MAGELANG - Suasana ceria dan suka cita tidak bisa ditutupi oleh anak-anak TKIT Asy Syaffa pada Senin (13/4). Sembari berlarian, anak-anak TKIT Asy Syaffa mengenakan apron (celemek - red) serta topi ala koki yang terbuat dari kertas karton dan kain slayer. Dengan suara yang riuh mereka selalu bertanya kepada Bunda Inda, guru pendamping, “mau masak apa bu, masak apa bu?”. 

TKIT Asy Syaffa yang merupakan lembaga pendidikan usia dini berkarakter Islam beralamat di Kampung Tulung No 48/91 Magelang, memiliki cara yang kreatif untuk membangun jiwa wira usaha anak didiknya. Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan sentra peran. Dalam sentra peran, anak belajar menjalankan beberapa peran yang telah ditentukan oleh guru. Kegiatan sentra peran dilakukan setiap dua pekan dengan sistem bergiliran untuk setiap kelasnya. Untuk minggu ke-3 bulan April ini, kurikulum TKIT Asy Syaffa memilih "Teknologi Hasil Central Pertanian” sebagai tema dalam sentra peran.

Bermain Peran dari Koki hingga Manager

Konsep tema teknologi hasil central pertanian yang diusung dalam pembelajaran sentra peran, kelas B TKIT Asy Syaffa yang dibimbing oleh Bunda Indayani sibuk menyiapkan bahan-bahan hingga memasak donat dan cistik. Dengan apron dan topi koki yang sudah melekat, bak chef professional, mereka sangat antusias dalam menjalankan perannya masing-masing. 

Bunda Inda telah membagi menjadi beberapa peran yang diantaranya yaitu bagian produksi, bagian pencetakan, bagian penggorengan, hingga kasir dan manager. Anak-anak duduk sesuai dengan bagian mereka masing-masing. Dengan canda tawa dan suara lantang, mereka menjalankan peran dari memasukkan bahan-bahan seperti tepung, telur, margarin, hingga mengolahnya menjadi bahan yang siap untuk dicetak.
Koki Cilik - Afira dan Nada (kanan ke kiri) siswi TKIT Asy Syaffa yang berperan sebagai koki bersemangat untuk mencuci bahan adonan untuk kue (13/4)
Bagian Produksi - Beberapa anak terlihat sibuk mengolah adonan kue donat dalam pembelajaran sentra peran TKIT Asy Syaffa (13/4)
Tak mau kalah, bagian percetakan pun mulai menggiling dan memotong adonan hingga siap untuk digoreng. Proses pembelajaran yang menuntut keaktifan anak dan bimbingan serta awasan penuh dari guru mengasilkan makanan yang siap mereka icipi. 

Bagian Percetakan - Anak-anak TKIT Asy Syaffa diajarkan cara menggiling adonan kue (13/4)



Menggoreng - Seorang anak TKIT Asy Syaffa terlihat asik menggoreng adonan kue (13/4)

Ruang Manager - Virya (kanan) berperan sebagai manager dan Fandi (kiri) sebagai kasir, mereka terlihat sibuk bermain peran dalam sentra peran TKIT Asy Syaffa (13/4)


 Keasyikan sentra peran dirasakan oleh anak-anak TKIT Asy Syaffa. Virya (6) siswa yang berperan sebagai manager mengungkapkan kegembiraannya saat Ia ditunjuk menjadi “Pak Bos”. Virya pun mengungkapkan bahwa dapat belajar cara memasak kue.

 Pembelajaran yang Konkrit

Bunda Inda mengungkapkan bahwa dengan sentra peran anak diperkenalkan dengan wirausaha. Selain itu, Bunda Inda memaparkan bahwa pembelajaran anak zaman sekarang harus konkrit dengan melihat dan praktik langsung mengenai bahan-bahan pembelajaran. 

Indikator yang ditentukan dalam sentra peran pun diungkapkan oleh Bunda Inda bahwa, “Dengan anak-anak mampu untuk menceritakan kembali proses pembuatan, bisa bermain peran sesuai dengan jenis peran yang dipilih, mengenalkan anak pada kebersihan setelah mengerjakan pekerjaan, mendidik anak dengan karakter Islam, dengan begitu anak-anak secara tidak sadar meresapi apa yang diajarakan”, jelas Bunda Inda.

Butuh kesabaran dalam mendidik anak terlebih anak-anak usia dini. Membutuhkan karakter kesabaran yang extra dalam memperkenalkan, membentuk karakter Islam dan keberanian, serta jiwa wira usaha pada anak. Begitulah yang terlihat dari sosok guru TKIT Asy Syaffa yang tidak kenal lelah dalam mendidik anak agar mereka menjadi orang yang luar biasa. (FN)