Kamis, 16 April 2015

TERAPKAN METODE PEMBELAJARAN AL-QUR’AN UMMI, SDIT IHSANUL FIKRI KOTA MAGELANG TARGETKAN LAHIR GENERASI- GENERASI QUR’ANI

Jilid UMMI- Buku panduan pembelajaran Al Qur'an para peserta
MAGELANG- Menjelang Sholat Dzuhur (16/4) Eni Sustiyani (41) seorang pengajar Al Qur'an di SDIT Ihsanul Fikri Kota Magelang  bercerita pengalamannya mengajarkan metode pembelajaran Al Qur'an UMMI sejak 2009 pada tim humas Yayasan Ihsanul Fikri. "Metode UMMI pertama kali diterapkan pada tahun ajaran 2010/2011 untuk kelas 1 dan 2, baru pada tahun berikutnya berkembang peruntukannya bagi kelas 1-5, dan baru pada tahun ajaran 2012/2013 semua kelas mendapatkan metode pembelajaran ini. Hingga tahun ajaran 2014/2015 telah terhitung 5 tahun terselenggaranya kegiatan belajar dan mengajar Al Qur'an menggunakan metode UMMI." ujarnya. Ustadzah Eni juga menyampaikan pendapatnya bahwa bukti keseriusan dari pihak sekolah dalam hal pendidikan Al Qur'an diawali dengan menambah kata "Mencetak Generasi Qur'ani" dalam Visi yang akan diwujudkan sekolah. Selain itu, untuk meningkatkan kualitas bacaan Al Qur'an para siswa, dilakukan seleksi pengajar yang cukup ketat. Syarat untuk menjadi pengajar yaitu dapat membaca Al Qur'an dan pernah mendapat sertifikasi dari Lembaga UMMI Foundation yang berkantor di Kota Pahlawan, Surabaya. Kemudian hasil dari sertifikasi tersebut dapat digunakan sebagai syarat sah untuk mengajar. Seorang guru yang berhak mengajar pun disesuaikan dengan masing-masing kapasitasnya untuk mengajar jilid/jenjang tertentu.

Pembelajaran UMMI

PROSES KEGIATAN BELAJAR DAN MENGAJAR
Ustadzah yang merupakan alumni pesantren AA Gym ini menyampaiakan bahwa standar pelaksanaan belajar Al Qur'an menggunakan metode UMMI yang diterapkan SDIT Ihsanul Fikri tidaklah berbeda dari Standar yang telah diterapkan oleh pusat. Pertama kali yang dilakukan yaitu pengaturan posisi duduk yang melingkar menggunakan kursi atau bisa juga dengan duduk lesehan. Kedua yaitu pengkondisian peserta dengan ice breaking setelah terkondisikan tenang, kemudian dibuka dengan salam, doa, dan Al Fatihah selama lima menit. Ketiga, mengulang hafalan yang sudah dikuasai atau muroja'ah sebanyak tiga sampai lima kali ulangan secara tartil yang disetorkan dengan talaqqi. Keempat, peserta mengikuti ucapan guru dengan menggunakan alat peraga yang selalu dimulai dari halaman awal selama 10 menit. Kelima, penilaian bacaan satu-persatu dari setiap siswa selama 30 menit. Terakhir, yaitu agenda review dan penutupan selama lima menit.Penutupan dilakukan dengan senandung khotamul Al Qur'an. "Satu kelompok belajar berisikan 15 anak." demikian keterangan tambahan yang disampaikan Ustadzah Eni.
 Terdapat hal paten dalam prosedur kenaikan jilid, yaitu ujian kenaikan jilid bersama seorang penguji terstandarisasi. Untuk menyempurnakan bacaan Al Quer'an dengan metode UMMI, peserta didik diharuskan mengkhatamkan enam jilid, ditambah jilid bacaan Ghorib dan Ilmu Tajwid. Setelah itu, baru kemudian bisa melanjutkan ke program Tahfidz atau Hafalan Al Qur'an. Selain itu, Ustadzah Eni menjelaskan bahwa tanggal 2 Mei nanti SDIT Ihsanul Fikri Kota Magelang akan menyelenggarakan Imtihan, yaitu uji kompetensi hasil pembelajaran Al Qur'an di sekolah sacara publik dan juga akan dilanjutkan dengan Khotaman. Harapannya setelah diadakan Munaqosah ini, para siswa dapat segera melanjutkan ke program Tahfidz Qur'an.

Suasana pembelajaraan Al Qur'an metode UMMI
KESAN TERHADAP PESERTA DIDIK
Saat ditanya mengenai respon anak-anak dalam mengikuti pembelajaran UMMI, Ustadzah Eni menuturkan jika anak-anak merasa enjoy dalam belajar, hanya saja ada beberapa kendala teknis yang terjadi, seperti terlupakannya sejenak materi belajar di rumah akibat tidak diulang. Namun, menurut beliau itu masih dalam koridor kewajaran. "Ya, harap maklum lah mbak, namanya juga anak-anak, butuh kesabaran dalam mendampingi mereka." ungkapnya sambil tersenyum. Oleh karena itu, peran semua pihak termasuk orang tua sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan siswa. (SPL)