Selasa, 07 Juli 2015

BACALAH! GONCANGAN DAHSYAT BAGI PERADABAN DUNIA


Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir memaparkan bahwa dalam QS. Al Alaq ayat pertama tersirat makna agar kita gemar mambaca yang dilandasi harapan untuk mendapatkan hidayah dari Allah. Melalui aktivitas membaca, Allah akan menganugerahkan kepada si pembaca berupa pemahaman, wawasan, dan ilmu pengetahuan. Aktivitas membaca dengan nama Allah akan mengantarkan setiap Muslim pada kesadaran akan motivasi utama dalam membaca adalah Allah, sehingga memunculkan kesan bahwa Allah adalah guru terbaik kita.
Kemajuan suatu bangsa akan ditentukan oleh perilaku dan pengetahuan yang mereka miliki. Generasi awal Islam sangat memahami syarat perubahan dan pembentukan sebuah peradaban, seperti yang diisyaratkan wahyu pertama itu. Mereka hidup dalam naungan iman, sekaligus kehausan terhadap ilmu pengetahuan.
Generasi awal Islam memiliki pandangan unik tentang buku. Mereka tidak menganggap buku sebagai momok yang menakutkan. Mereka menganggap buku sebagai makanan bagi jiwa dan akal pikiran mereka. Itulah sebabnya, mereka lebih mencintai buku daripada selainnya.

Sahib ibnu Abbad
Ia menolak menjadi perdana menteri Samarkand karena dia akan kerepotan membawa buku-buknya yang memerlukan 400 ekor unta untuk mengangkut semuanya ke Samarkand.

Al Ghazali
Ketika dirampok, ia dengan mengiba berkata, "Kalian boleh mengambil seluruh apa yang aku bawa, tetapi jangan buku itu. Demi buku itu aku tinggalkan tanah kelahiranku. Di dalamnya perjalanan ilmu tercatat."

Imam an-Nawawi
Berdasarkan cerita al-Badar bin Jamaah rahimullah. Suatu saat Imam an-Nawawi ditanya tentangpola tidurnya. Dengan sederhana beliau menjawab, "Setiap kali mengantuk berat, aku tidur dengan bersandar pada tumpukan kitab lalu aku terbangun lagi." Lebih lanjut al-Badar menambahkan ceritanya, "Setiap kali aku mengunjungi Imam an-Nawawi,ia menumpuk ktab-kitabnya supaya ada sedikit ruang untuk aku duduki."
Berdasar cerita al-Quathbu al-Yunini. "An-Nawawi adalah orang yang tidak mau membuang-buang waktu, baik siang maupun malam. Ia selalu menyibukkan diri dengan urusan ilmu. Bahkan, saat sedang dalam perjalanan pun ia tetap sibuk menghafal dan membaca buku."

Ibnu Katsir
Kepada adz-Dzahabi, Ibnu Katsir berkata, "Aku selalu membaca dan menulis pada malam hari di bawah cahaya lampu yang lemah sinarnya, sehingga mengakibatkan mataku buta. Dan, mudah-mudahan Allah berkenan mendatangkan orang yang akan menyempurnakannya."

Abu Bakar bin al-Anbari
Ibnu Jauzi menceritakan di dalam kitab Shaidul Khathir. Seorang dokter pernah masuk ke dalam ruangan Abu Bakar bin al-Anbari saat kematiannya tiba. Dokter itu melihat ada seratus kitab. Ia lalu berkata, "Engkau telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain." Sang dokter lalu keluar sabil mengatakan kepada kerabat Abu Bakar bin al-Anbari, "Dia tidak apa-apa!'
Saat dokter itu keluar, seseorang bertanya kepada al-Anbari, "Apa yang sebenarnya kamu lakukan?"
"Aku membaca seratus ribu lembar halaman buku setiap minggu," jawabnya.
Semoga kita terinspirasi dari penggalan kisah para generasi muslim pendahulu diatas. Semangat membaca ya sahabatku.....

Disarikan dari buku berjudul Prophetic Learning, Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian karya Dwi Budiyanto.