Sabtu, 13 Februari 2016

TK IT Asy Syaffa' 1 Gelar Enterpreneur Day

Siswa-siswi TK IT anak didik dari bunda Nita sedang memamerkan hasil-hasil karyanya (9/2) | Fotografer: Puji
YayasanIhsanulFikri.org | MAGELANG - TK IT Asy Syaffa' 1 menggelar Enterpreneur Day disela-sela kegiatan belajar mengajar pada Selasa (9/2) di kelasnya masing-masing. Siswa- siswi kelompok A dan B menampilkan berbagai macam produk kreatifitas hasil olahan limbah yang telah dibuatnya bersama orang tuanya di rumah, kemudian anak-anak diminta mempresentasikan apa saja bahan yang digunakan dan bagaimana proses pembuatannya oleh gurunya. 

Menurut Kepala TK IT Asy Syaffa' 1, latar belakang diselenggarakannya kegiatan Enterpreneur Day untuk mengasah kemampuan life skill pada anak yang merupakan salah satu  standart kompetensi lulusan yang ada dalam kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).
"Beragam cara kami lakukan  untuk mengajarkan life skill, salah satunya entrepreneurship pada anak-anak usia dini, karena menurut teori psikologi perkembangan. Usia anak-anak awal adalah usia penting untuk menanamkan pembelajaran hidup pada anak,' ungkap Dwi Rahayu Wilujeng yang akrab disapa Bunda Wiwik. 
Bunda Wiwik menambahkan suatu permisalan yang terjadi di lapangan, mungkin banyak dari orang tua yang meragukan kemampuan anak-anaknya ketika masih berusia 3 sampai 8 tahun. Padahal, seorang peneliti anak-anak, Alison Gopnik, mengatakan bahwa sebenarnya, anak-anak memiliki otak yang sama dengan para ilmuwan. Jadi, kesimpulannya anak-anak memiliki otak yang masih mudah dibentuk, penuh dengan keingintahuan, kecurigaan, dan kemauan tinggi untuk berhasil melakukan sesuatu. Bahkan usia anak-anak adalah usia di mana anak sangat ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang sesuatu. Inilah mengapa, adanya kontak antar orang tua dengan anak di masa awal anak-anak sangat penting dilakukan.
"Dengan pembelajaran entrepreneurship, tak hanya persoalan jual dan beli. Namun,  juga menuntut kreativitas, maka jati diri untuk menjadi seorang entrepreneur harus dibentuk sejak kecil, teladan kita  Nabi Muhammad SAW juga seorang entrepreneur, terangnya. 
Ada kerjasama antara orang tua dan anak. Anak-anak dibantu oleh ibu/ayahnya selama proses pembuatan karya dari barang limbah beserta makalahnya, kemudian di sekolah anak-anak mempresentasikan hasil karyanya. Jadi, di sini kemampuan bahasa, kognitif, fisik motorik, seni, sosial, emosi, dan nilai agama mereka di asah. Selain itu, kegiatan  ini juga menuntut  kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak maupun program yg ada di Taman Kanak-kanak (TK) .
"Harapan kami, kegiatan ini bisa memotivasi maupun menginspirasi anak untuk bisa menjadi seorang entrepreuner yang hebat, yang sholih dan sholihah," ungkap Wiwik.
Mas Fadhil (6) menyatakan perasaan bahagia atas hasil karya bersama ayahnya yang diberi nama pesawat tempur F15.
"Senang, Ayah membantu membuat pesawat tempur F15, Fadhil yang masang-masang dan Ayah bantu mengecat," ungkapnya polos. (SPL)
Siswa-siswi TK IT anak didik dari bunda Rofi sedang memamerkan hasil-hasil karyanya (9/2)
Siswa-siswi TK IT anak didik dari bunda Iffah  sedang memamerkan hasil-hasil karyanya (9/2)
Mas Fadhil (6) sedang mempresentasikan pesawat tempur F15 yang dibuat dari botol shampo, tutup lem, dan kardus.
Mbak Shahwa (6) sedang mempresentasikan tempat pensil dan tasnya yang terbuat dari kain perca
.