Senin, 28 Maret 2016

Tujuh Keutamaan Hafiz Al-Quran

Ustadz A Kasban Syarqawi, Lc | YIF 

Al-Quran fondasi awal membangun generasi unggulan


Oleh Ustadz A Kasban Syarqawi, Lc 
Pengasuh Tahfidzul Quran Ihsanul Fikri

IHSANULFIKRI.Org - Menjadi Hafiz (Penghafal) Al-Quran itu harus dengan niat yang lurus. Orientasinya karena ingin bersama-sama masuk surga. Bukan sekadar mendapat nilai bagus. Besok di hari akhir Al-Quran akan memberi syafaat kepada ahlulquran (keluarga Al-Quran). Jadi sesungguhnya membaca Al-Quran itu ibadah, walaupun tidak tahu artinya. Bacaan Al-Quran itu bisa membersihkan hati kita.  

Membaca Al-Quran itu sebagai fondasi awal membangun generasi unggulan. Jadi yang perlu orangtua tekankan pada anak, membaca Al-Quran dan kemampuan berbahasa. Membaca Al-Quran sebagai kedekatan Spiritual dan Bahasa sebagai kepekaan Sosial. Kedekatan dengan Al-Quran, inilah kunci sukses pendidikan. Al-Quran sebagai hubungan vertikal kepada Allah SWT dan Bahasa sebagai hubungan horizontal sesama manusia. 

"Membaca Al-Qur`an dan mengamalkan apa yang ada didalamnya, maka pada hari kiamat dia dan kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari walaupun dia berada dalam rumah, serta dipakaikan pakaian yang keindahannya tidak ada yang sanggup menandinginya." (HR. Abu Dawud)

Setidaknya ada tujuh keutamaan Hafiz Al-Quran:

Pertama, Mendapatkan Ridho Allah SWT

Semoga anak-anak kita bisa istiqomah dengan hafalan Al-Qurannya. Menjadi Hujjah di akhirat dan lulus dengan nilai bagus yang memenuhi empat Kompetensi, Al-Quran, Bahasa, Karakter (Akhlak) dan Ujian Nasional (UN). Menjadi pribadi unggul, keluarga sejahtera dan bermanfaat untuk masyarakat.    

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Furqon [25]: 74).

Mari wujudkan generasi shalih dan mau berdakwah. Mereka yang akan memakmurkan bumi. Mereka yang berhak menjadi imam adalah orang-orang yang Hafal Al-Quran.

Kedua, Berhak Mendapat Pertolongan Allah SWT 

Al-Quran sering juga disebut Kalamullah, maka orang yang membacanya pada hakikatnya sedang bercakap-cakap dengan Allah SWT. Seseorang akan betah berbincang dengan teman akrabnya atau dengan orang yang dia cintai. Kemuliaan akan didapat karena sering ‘berdialog’ dengan Allah SWT. Orang yang dekat dengan Allah akan segera mendapat pertolongan Allah SWT. 

Rahmat Allah SWT terhadap orang yang membaca Al Quran sangat besar. Seperti dijelaskan oleh hadits ”Kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah ibadah, membaca secara bergiliran dan mengajarkannya kepada sesama, akan turunlah kepadanya ketenangan dan ketentraman, akan terlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh Malaikat, dan Allah akan selalu mengingat mereka. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Ketiga, Menumbuhkan Jiwa Leadership

Seorang Hafiz adalah orang yang menjaga Al-Quran. Mereka yang disebut penghafal Al-Quran itu adalah yang menguasai tajwidnya, cakap langgamnya, mengamalkan dan mendakwahkan serta bisa merefleksikan dalam kehidupan. Maka seseorang akan layak menjadi pemimpin kalau dia memenuhi kriteria ini. Dengan bekal Al-Quran setiap ada problema di masyarakat dia akan muncul untuk membantu mengatasinya. Karena Al-Quran mengajarinya cara mengatasi penyakit sosial.

Kebanggaan, kemuliaan dan kehormatan umat ini adalah dengan membaca Al-Qur`an, menghafalnya, mengajarkannya dan beramal dengannya dan apa saja yang berhubungan dengan Al-Qur`an.

Membaca atau mempelajari beberapa ayat Al-Qur`an adalah lebih berharga daripada kerajaan seluas 7 benua yang bersifat sementara dan pahalanya bermanfaat untuk selama-lamanya.


Al-Quran jangan dinomor duakan

Keempat, Menjadi Pribadi Unggul

Seorang Hafiz adalah orang yang mengutamakan Al-Quran dalam kesehariannya. Karena kedekatan dengan Kalam Illahi ini, maka pertolongan Allah SWT pun menjadi dekat. Jadi mulai sekarang niatnya diperbaiki, Membaca Al-Quran sambil menyetir mobil, Membaca Al-Quran sambil memasak, Menyapu sambil membaca Al-Quran. Jangan dibalik, Al-Quran hanya menjadi sambilan, Al-Quran jangan dinomor duakan.

Tidak ada sarana yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT kecuali dengan perantaraan Al-Qur`an. Membaca Al-Quran akan menyebabkan kita lebih bertawajuh (merasa dekat) dan memberi kesan tersendiri pada diri pembacanya.

Ahli atau keluarga Al-Quran (yang selalu menyibukkan diri dengan Al-Quran) adalah keluarga  Allah SWT. Karena termasuk keluarga, maka Allah SWT akan selalau mengulur kasih sayang-Nya. Mereka orang-orang istimewa pilihan Allah SWT sehingga mendapat kemuliaan.

Kelima, Namanya disebut-sebut dalam Kumpulan Mahluk Allah SWT

Malaikat akan selalu bersama orang yang lidahnya basah dengan bacaan Al-Quran. Orangtua yang memiliki anak yang hafal Al-Quran diakhirat akan diselamatkan dari siksaan Neraka. Kalau bapak ibunya saja bisa diselamatkan, bagaimana pula kedudukan anaknya? Tentu mulia sekali. Nama anak itu akan disebut-sebut dalam kumpulan orang yang banyak di Padang Mahsyar. Ahlul-Quran, di padang mahsyar akan berada bersama malaikat pencatat yang mulia dan benar. Padahal ketika dalam pentas, sang juri menyebut nama seorang anak yang menjadi juara, orang tuanya sudah sangat bangga. Apalagi di Padang Mahsyar kelak.  


Bersungguh-sungguh ingin menghafal Al-Quran tapi tidak mampu, namun terus menerus membacanya, maka Allah akan membangkitkannya dihari kiamat dengan para hafidz Al-Quran.

Menghormati, menunaikan hak-haknya dan mengamalkan Al-Qur`an maka al-Qur`an akan membelanya dihadapan Allah SWT dan memberi syafaat serta menaikkan derajatnya.

Keenam, Hafalan Menentukan Tingkat Surga

Di dalam sebuah hadis disebutkan:

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الْحَفَرِيُّ وَأَبُو نُعَيْمٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ زِرٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا – رواه الترميذي

Dari Mahmud bin Ghailan dari Abu Daud Al-Hafari dan Abu Nu’aim dari Sufyan dari ‘Ashim bin Abi An-Najud dari Zir dari Abdullah bin ‘Amr dari Nabi Muhammad saw. bersabda: Dikatakan kepada ahli Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah dan tartilkanlah sebagaimana kamu membaca Al-Qur’an dengan tartil sewaktu di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu terdapat pada ayat terakhir yang kamu baca dari Al-Qur’an”. (HR. Tirmidzi).


Ketujuh, Al-Quran akan Menjaganya

Diantaranya, Surat Al-Mulk, siapa yang membaca surat ini maka terbebas dari siksa kubur. Rumah yang dibacakan Al-Baqarah, tidak akan dimasuki setan.

خبرنا عبيد الله بن عبد الكريم وقال حدثنا محمد بن عبيد الله أبو ثابت المدني قال حدثنا بن أبي حازم عن سهيل بن أبي صالح عن عرفجة بن عبد الواحد عن عاصم بن أبي النجود عن زر عن عبد الله بن مسعود قال : من قرأ { تبارك الذي بيده الملك } كل ليلة منعه الله بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب

Telah menceritakan pada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdil Karim, ia berkata, telah menceritakan pada kami Muhammad bin ‘Ubaidillah Abu Tsabit Al Madini, ia berkata, telah menceritakan pada kami Ibnu Abi Hazim, dari Suhail bin Abi Sholih, dari ‘Arfajah bin ‘Abdul Wahid, dari ‘Ashim bin Abin Nujud, dari Zarr, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Barangsiapa membaca “Tabarokalladzi bi yadihil mulk” (surat Al Mulk) setiap malam, maka Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan surat tersebut “al Mani’ah” (penghalang dari siksa kubur).  Dia adalah salah satu surat di dalam Kitabullah. Barangsiapa membacanya setiap malam, maka ia telah memperbanyak dan telah berbuat kebaikan.” (HR. An Nasai dalam Al Kabir 6/179 dan Al Hakim. Hakim mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih)


   
Disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi saw bersabda,

مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari no. 5009 dan Muslim no. 808)

Imam Nawawi sendiri menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya –menurut sebagian ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit. Semua makna tersebut kata Imam Nawawi bisa memaknai maksud hadits. Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 83-84.

Demikianlah Al-Quran akan memiliki dampak spiritual. Rumah yang didalamnya dibacakan Al-Quran, akan lahir pribadi yang shalih, keluarga yang sakinah dan masyarakat yang sejahtera. Maka sempatkanlah untuk membaca Al-Quran.