Rabu, 27 Juli 2016

Dari Keluarga Qur'ani menuju Masyarakat Qur'ani


 Salah satu potret keluarga Qur'ani peserta Temu Hufazh Nasional 2016 seusai sesi makan malam (7/5)
 (ki-kanan): N
abilatunnawal (26) - Vina Tsabita (1thn 4 bulan) - Syahidah Asma Amani (2,5) - Prasetyo Rudi Hartono (32) |

 Fotografer: Srikandi Puji Lestari
YayasanIhsanulFikri.org | Magelang - Kisah inspiratif ini datang 2 bulan lalu saat diselenggarakannya Temu Huffazh Nasional (THN). Saat itu tim reporter berhasil mewawancarai dua peserta THN yang merupakan suami-istri. "Dari Keluarga Qu'ani menuju Masyarakat Qur'ani" mungkin ini judul yang tepat untuk menggambarkan keluarga Qur'ani satu ini, yang telah bersedia berbagi kisahnya pada pembaca setia web ini. 

Prasetyo Rudi Hartono (32), merupakan seorang guru Al Qur'an di Markaz Al Qur'an Jakarta yang berasal dari Riau. Rudi merantau dari tempat asalnya hingga ke Jakarta untuk menghafalkan Al Qur'an selama 2 tahun di Ma'had Ustman bin Affan dan menyempurnakan hingga 30 Juz Al Qur'an di Markaz Qur'an Jakarta. Sedangkan istrinya, Nabilatunnawal (26), sudah mulai menghafalkan Al Qur'an sejak bersekolah di SD IT, hingga melanjutkan sewaktu kuliah dan mulai benar-benar fokus menghafal sejak berada di LTQ Al Hikmah selama 9 bulan dan atas izin Allah, Nabila dapat menuntaskan hafalan 30 Juz dalam usianya yang ke-21 tahun, sesuai dengan targetnya untuk menuntaskan hafalan sebelum menikah.

Berikut adalah kutipan wawancara bersama salah satu keluarga  Qur'ani peserta Temu Hufadz Nasional I yang diselenggarakan di Hotel Oxalis Kota Magelang pada awal bulan Mei lalu.


1. Hasil wawancara bersama Nabilatunnawal

Reporter: "Bagaimana kisah Ustadzah saat berproses menjadi hafidzah?"
Ustadzah Nabila: "Dulu saat di SD, menghafal masih menjadi tuntutan sekolah, lanjut seterusnya hingga kuliah di Psikologi UI. Dorongan untuk menghafal Qu'an semakin kuat setelah membaca buku motivasi menghafal Al Qur'an, kemudian dari situ memutuskan untuk izin berhenti dari kuliah dan fokus untuk menghafal di Al Hikmah. Alhamdulillah orang tua mengizinkan dan yakin akan janji Allah bagi para penghafal Qur'an. Setelah diizinkan, saya nunggu masa pendaftaran ma'had yang dibuka bulan Juni-Juli. Jadi selama menunggu, sejak Januari saya mengajar PAUD. Saya resmi masuk Al Hikmah di tahun 2011."
Reporter: "Hal apa yang paling berkesan saat menjalani proses menghafal?"
Ustadzah Nabila: "Yang paling berkesan adalah saat tinggal di asrama tahfidz, karena nuansa yang dibangun adalah nuansa fastabiqul khoirat (berlomba-lomba dalam kebaikan.red), dalam satu pekan bisa mendapat satu Juz."

Reporter: "Oya Ustadzah, bolehkah diceritakan proses Ustadzah ketika akan menjalani kehidupan berkeluarga?"
Ustadzah Nabila: "Alhamdulillah prosesnya cepat, saat kami saling menyampaikan visi dan langsung cocok setelah selesai proses ta'aruf. Sebagai bocoran, kami sama-sama bervisi membentuk keluarga Qur'ani."

Reporter: "Program apa yang kemudian Ustadzah terapkan untuk membentuk generasi Qur'ani untuk anak-anak Ustadzah?"
Ustadzah Nabila: "Membiasakan tilawah rutin dan murojaah sejak dalam masa kandungan dan menyusui kemudian saat usia 3 tahun, baru talaqi. Di rumah, kami juga memasang speaker untuk mengisi ruang-ruang dengan suara Qur'an.  Mengikuti forum THN ini pun salah satu cara untuk menjaga semangat berinteraksi dengan Qur'an."

Reporter: "Apa pesan dan kesan dari Ustadzah untuk para pembaca yang juga ingin membentuk keluarga Qur;ani?"
Ustadzah Nabila: "Untuk membentuk keluarga Qur'ani, mulailah dari diri sendiri, kemudian mencari pasangan yang memiliki tujuan pernikahan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan membentuk keluarga Qur'ani. Setelah itu membuat misi yang berisi rancangan program keluarga Qur'ani contohnya membentuk generasi Qur'ani sejak dalam kandungan, saat menyusui, membiasakan membaca Al Qur'an selepas maghrib, mengenalkan anak dengan Al Qur'an dengan memegangkan Al Qur'an saat kita sedang mengaji, agar anak menjadi akrab terlebih dahulu dengan kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan. Milikilah musyrif/ah (guru.red) walaupun suami-istri sudah berstatus hafidz/ah."


2. Hasil wawancara bersama Prasetyo Rudi Hartono

Reporter: "Ustadz Rudi, apa visi dan misi keluarga anda?"
Ustadz Rudi:
Visi: Menjadikan Alquran Sebagai konsep utama dalam meraih keluarga Qur'ani, sakinah, mawaddah, dan rohmah hingga Alloh tetapkan syurga untuk kami insyaa Alloh...


Misinya (caranya):

1. Mengimani semua ayat Al Quran dan sunnah tanpa ada keraguan sedikit pun

2. Menghidupkan seluruh ayat-ayat dan sunnah yang telah diketahui


Langkah-langkah untuk mencapainya:

1. Menjaga setiap yang dikonsumsi selalu Halal lagi baik, dan menghindari yang syubhat

2. Mendidik Sejak dalam rahim..

-mengajukan proposal kepada Alloh dengan memperbanyak doa sebelum ditetapkannya takdir, agar Alloh menetapkan nantinya sebagai ahlul Jannah, shohibul Quran, hafizhul Hadits dan mahir dalam segala bidang ilmu

-selalu mendidiknya dengan mentalaqikan Alquran dan Hadits

-selalu mendoakan wanita yang hamil dengan keinginan besar kami

3. Menanamkan nilai-nilai ketauhidan kepada zurriyah sejak sudah mulai mengerti dan paham apa yang kita sampaikan, dengan cara setiap apa yang dilihat dan diberi kepada mereka, selalu menanyakan SIAPA YANG ngasih ''jawaban nya pasti Alloh'' begitu seterusnya

4. Menanamkan siapa yang harus dicontoh, dengan selalu menyuruh ''Kakak/adek, kalo Rosululloh makan pakai tangan apa ?'' Begitu seterusnya

5. Menanamkan agar selalu mengajarkan ke adiknya apa yang telah diketahui

6. Menanamkan agar selalu menjaga adiknya dan keluarganya saat saya keluar rumah

7. Membangunkan mereka di sepertiga malam untuk bersama-sama Qiyamul Lail

8. Membiasakan saat kita megang mushaf, mereka juga diberikan mushaf
9. Selalu mendoakan anak-anak siapa saja yang dilihat dengan doa yang dipanjatkan sebelum penetapan takdir, karena semua malaikat yang bertugas mengaminkan akan mengembalikan doa orang-orang yang selalu mendoakan saudaranya tanpa diketahui oleh yang didoakan
10. Menanamkan pengertian bahwa setiap kata JANGAN yang disampaikan oleh abi dan umi-nya akan menerima konsekuensi, sedangkan jika abi umi tidak berkata jangan, maka diberikan toleransi.

Reporter: "Bagaimana menyikapi lingkungan gadget yang sulit dibendung agar tidak mengganggu proses pembentukan keluarga qur'ani? apakah ada aturan khusus yang diterapkan dalam keluarga?"
Ustadz Rudi: "Kami hanya memberikan batasan waktu sesaat saja untuk memainkan gadget dan biasanya setelah menyampaikan ''waktunya habis'' mereka langsung ngasih (mengembalikan.red). Begitupula disaat memainkan gadget harus duduk. Setiap kita menanamkan moral ikhlas dan tulus, kami melakukan komunikasi dengan tidak menyakiti hatinya.


Reporter: "Apakah ada keinginan untuk mendirikan pesantren tahfidz untuk mewujudkan masyarakat yang Qur'ani?"
Ustadz Rudi: "Itu bukan sebuah keinginan, tapi merupakan cita-cita besar yang harus teralisasi sesegera mungkin. Sudah ada lahan wakaf yang telah diberikan, bahkan juga ada cita-cita untuk membuat residen (komplek hunian.red) yang ruh Al Qur'an dan Sunnah hidup di dalamnya. Semoga Allo realisasi cita-cita ini, insyaa Alloh." (SPL)



Link berita terkait:



Seminar Temu Huffazh Nasional: Bahagia Hidup dibawah Naungan Qur'anional-seminar-bahagia.html