Rabu, 31 Agustus 2016

Berburu Inspirasi ke Rumah Dunia

Puji (26), reporter YayasanIhsanulFikri.org tengah berpose
di halaman depan Rumah Dunia pada Senin (29/8).
| Fotografer: Dyah
Sebuah Cacatan Perjalanan dari Pulau Jawa bagian Barat

"Buku juga membuatku semangat menjalani hidup. Itulah – saya kira – alasan utama kenapa saya membangun Taman Bacaan Masyarakat Rumah Dunia dan menggelorakan “gempa lirerasi”, gempa yang menghancurkan kebodohan." (Gol A Gong)

YayasanIhsanulFikri.org | Serang, Banten - Rumah Dunia sebuah Taman Bacaan Masyarakat dengan jargon "Rumahku Rumah Dunia Kubangun Dengan Kata-kata" didirikan oleh Gol A Gong bersama istrinya Tias Tatanka dengan dibantu sahabat-sahabatnya.

Gong merupakan sosok inovator pendidikan yang idealis yang bermula dari seorang penulis. Hal ini dibuktikan dengan besarnya dedikasi yang telah diberikan untuk warga Banten dan masyarakat Indonesia yang berada di dalam maupun luar negeri untuk memberantas buta aksara dan mengkampanyekan program gemar membaca.

Apa Kata Relawan Rumah Dunia?
1.) Dzakwan Ali, relawan Rumah Dunia yang merupakan mahasiswa pendidikan Matematika UNTIRTA, asal Pandeglang Jawa Barat, yang juga menjabat sebagai ketua KAMMI Wilayah Banten.
Puji : "Apa yang membuatmu tertarik untuk bergabung jadi relawan Rumah Dunia?"
Dzakwan : "Karena Rumah Dunia adalah pondasi literasi di Banten yang mesti dijaga"
Puji : "Apa sih yang khas dari Rumah Dunia?"
Dzakwan : "Rumah Dunia telah menjadi penerang dalam gelapnya literasi di Banten. Idealisme yang begitu kuat menjadi prinsip setiap relawan yang terus dijaga oleh mas Gong."
Puji : "Konsekuensi apa yang harus dijalani selama menjadi relawan?"
Dzakwan: "Mesti menjaga nama baik Rumah Dunia dengan tetap mengedepankan idealisme."

2.) Yehan Minara, relawan Rumah Dunia yang merupakan mahasiswi jurusan Komunikasi Penyiaran Islam IAIN Sultan Maulana Hasanudin Banten.
Puji : "Kenapa teh Yehan tertarik untuk bergabung jadi relawan Rumah Dunia?"
Yehan: "Hm.. Seneng aja, aku emang suka dengan kegiatan kerelawanan."
Puji : "Bisa diceritakan bagaimana kisah Yehan sampai bisa masuk jadi relawan Rumah Dunia?"
Yehan: "Tahun 2012 diajakin sama temen seorganisasi di IMM kesini, eh jadi keterusan ga bisa move on.. hehe.. Suka banget sama tempat kaya gini, mungkin di Serang banyak, tapi yang ini bener-bener beda, udah nyaman bangetlah disini."
Puji : "Apa sih filosofi dari jargon 'Rumahku Rumah Dunia Kubangun dengan Kata-kata'?"
Yehan: "Secara garis besar, mas Gong itu pengen bikin rumahnya ada banyak buku bacaan, nah kalau kita udah banyak baca buku, maka kita akan bisa melihat dunia, karena buku adalah jendela dunia, kurang lebih seperti itu yang saya pahami."
Puji : "Bagaimana dengan sistem kerja tim relawan Rumah Dunia?"
Yehan : "Pada dasarnya mas Gong membebaskan kami untuk beraktivitas diluar, mengikuti berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat. Namun, jika sudah diamanahi, maka kita harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban kita." 

Dokumentasi Perjalanan:
Suasana pagi hari di terminal Pakupatan, Serang, Banten (28/8)
 | Fotografer: SPL
Aula terbuka Rumah Dunia (29/8)
 | Fotografer: SPL
Ciri khas pohon di Rumah Dunia (29/8)
 | Fotografer: SPL
Cafe Solidarnos tampak depan (29/8)
 | Fotografer: SPL
Solidarnos Cafe ada di areal Rumah Dunia, didirikan pada bulan Oktober 2015 oleh Gol A Gong dan Tias Tatanka, yang juga pendiri Rumah Dunia. Mereka mendesain kafe ini penuh dengan nilai seni dan perjalanan. Jejak Si Roy sangat kental sekali di kafe ini. “Ada rezeki dari film, modal awal Rp. 50 juta,” kata Tias. “Kami berharap cafe ini bisa mensubsidi operasional bulanan Rumah Dunia. Juga beberapa relawan Rumah Dunia bisa membiyai kuliah dengan bekerja di sini. Juga kami para relawan setiap hari bisa berpesta di sini,” Tias tersenyum. Kata “Solidarnos” pada nama cafe ini juga adalah pilihan Gong, yang diambil dari salah satu bab di novel Balada Si Roy. Kata Gong, “Kata Solidarnos dalam Balada Si Roy berasal dari kata ‘Solidarnosc’, organisasi buruh di Polandia yang menginginkan kesejahteraannya. Secara bahasa, Solidarnos artinya solidaritas”.

Salah satu ruang lesehan di Cafe Solidarnos (29/8)
 | Fotografer: SPL
Dinding perjalanan berisi kumpulan plat-plat nomor kendaraan di salah satu tembok Cafe Solidarnos (29/8)
 | Fotografer: SPL
Dinding cover buku/majalah (29/8)
 | Fotografer: SPL
Area Gong Traveling, berisi dokumentasi perjalanan para peserta. (29/8)
 | Fotografer: SPL
Ruang utama Cafe, tersedia meja kursi dan perabotan unik lainnya (29/8)
 | Fotografer: SPL
Foto bersama para relawan Rumah Dunia (29/8) berlatar belakang jendela poster dan quote's
 | Fotografer: Dyah
Mobil perpustakaan keliling hasil sumbangan dari majalah UMMI dan ANNIDA
bertagline "IQRO! Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Mulia" terparkir rapi di garasi (29/8)
 | Fotografer: SPL
Lukisan beri kata-kata bernuansa kritik sosial (29/8)
 | Fotografer: YM
Lukisan yang menggambarkan kritik sosial yang terjadi di pemerintahan Banten (29/8)
 | Fotografer: YM
Gong Library (29/8)
 | Fotografer: SPL
Sepeda dan Tas gunung yang bersejarah Golagong | Fotografer: SPL
Pajangan cover-cover majalah di salah satu dinding Gong Library | Fotografer: SPL
Pojok lain Gong Library yang berisi rak buku dan pajangan kliping-kliping koran | Fotografer: SPL
Plakat-plakat penghargaan | Fotografer: SPL
Piagam Penghargaan dari Menteri Pendidikan Muhammad Nuh, sebagai individu/inovator pendidikan tahun 2012
 | Fotografer: SPL
Akhir dari kunjungan, siap untuk pulang ke Magelang (29/8) | Fotografer: Dyah

Sejarah singkat pendirian Rumah Dunia
Gol A Gong yang bernama asli Heri Hendrayana Harris ini sukses berkat novel “Balada Si Roy”. Ia terinspirasi dari Old Shaterhand, Tom Sawyer, Musashi, Papillon, dan Jim Bowie. “Karakter-karakter itu saya ramu dan jadilah tokoh 'Roy'," Gol A Gong mengisahkan. Novel yang tenar di tahun 90-an itu hingga kini telah dicetak lebih dari 300.000 kopi.

Pria kelahiran Purwakarta 15 Agustus 1963 ini juga penulis skenario TV. Pada 1995 bekerja di Indosiar. Kemudian hijrah ke RCTI (1996 - 2008) sebagai senior creative.  Beberapa novelnya diangkat ke layar kaca, seperti Balada Si Roy yang dibuat versi sinetronnya oleh PT Indika Entertainment, diperankan Ari Sihasale (ditayangkan di Malaysia), Pada-Mu Aku Bersimpuh (2002, RCTI), dan Al Bahri (SCTV, 2002). Sekarang novel “Balada Si Roy” sedang pra-produksi untuk layar lebar. Semoga pada 2016 bisa ditonton di bioskop.

Gol A Gong
Pada umur 11 tahun Gong (1974) jatuh dari pohon. Tangan kirinya harus diamputasi. Saat itu ia dan teman-temannya menyaksikan beberapa tentara terjun payung. Ia menantang kawan-kawannya terjun payung dengan cara meloncat dari pohon. Siapa yang berani meloncat paling tinggi, dialah yang berhak menjadi pemimpin. Ayahnya, Harris Sumantapura, guru olahraga berpesan, "Kamu harus banyak membaca, agar lupa bahwa kamu hanya memiliki satu tangan. Dan kamu akan menjadi seseorang." Nasihat sederhana itu benar-benar diresapinya sehingga ia berhasil menjadi penulis.

Nama pena “Gol A Gong”, ketika ia bertanya kepada ibunya, seorang guru di sekolah keterampilan putri, Serang. “Gong” itu berarti karyanya “goal” atau “masuk”, dan “gong” itu harapan, agar karya-karyanya menggema di hati pembaca. Sedangkan “A” berarti “Allah”. Filosofinya adalah “kesuksesan itu milik Allah”.

Anak-anak yang turut meramaikan aktivitas
di Rumah Dunia dengan menggambar
Gong  mengawali karir di dunia tulis menulis dengan menjadi wartawan. Tahun 1989, pria penggemar bulutangkis ini tercatat sebagai wartawan tabloid Warta Pramuka (Kompas Gramedia). Kemudian pada 1994 hingga 1995, ia bekerja di tabloid Karina. Ia juga sempat menjadi reporter freelance di beberapa media massa.
Gong bersama Tias, istrinya

Ketika Gol A Gong mulai membuka perpustakaan keluarga untuk masyarakat pada tahun 1990-an, pada saat bersamaan dia juga merintis penerbitan tabloid bulanan berbasis komunitas, yaitu Banten Pos (1993) dan Meridian (2000). Dua tabloid itu hanya bertahan enam bulan. "Saya diancam petugas dengan pistol di atas meja jika tidak menghentikan penerbitan tabloid," ujar pria yang sempat bercita-cita menjadi pilot di masa kecilnya itu.


Foto bersama selepas pelatihan menulis skenario
Gol A Gong yang tidak menamatkan kuliahnya dari Jurusan Sastra Indonesia Unpad, bersama istrinya, Asih Purwaningtyas Chasanah atau lebih akrab disapa Tias Tatanka, dibantu sahabat-sahabatnya, mendirikan komunitas baca Rumah Dunia di kompleks Hegar Alam 40 Ciloang, Serang 42118, Provinsi Banten.  Menurutnya, pembentukan komunitas ini merupakan investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya di Banten. Kegiatan "wisata" bagi anak-anak, yaitu wisata baca, wisata dongeng, wisata teater, wisata mengarang, wisata gambar, dan wisata study. Sedangkan bagi pelajar dan mahasiswa berupa “gempa literasi”, yaitu pertunjukkan seni, bazaar buku, pelatihan menulis, aneka lomba literasi, diskusi kebudayaan, launching dan bedah buku.

Kelas menulis Taman Bacaan Masyarakat
Rumah Dunia angkatan ke-28 pada Ahad (28/8)
bertempat di Gong Library dihadiri 30 peserta
Bersama para relawan, Gol A Gong ingin melakukan dekonstruksi sosial di Rumah Dunia. Misalnya "Jawara" yang tidak lagi identik dengan kekerasan, tapi menjadi “jawara ilmu”.  Atau versi Gong, “Saatnya otak, bukan otot!” Lalu munculah gerakan “Banten Membaca untuk Indonesia” di tingkat local. Sedangkan di nasional, dia membuta “Gerakan Indonesia Membaca”, bahkan hingga ke Asia. Setelah Malaysia, Abu Dhabi,. Dubai, Jeddah, dan Mekkah, sekarang bersama teman-teman di Kesetaraan Taiwan, membuat taman bacaan masyarakat Rumah Ilmu. “Saya ingin memberdayakan para TKI di Taiwan.
(Sumber narasi: Dari Menulis ke Rumah Dunia; Sumber Foto: koranrumahdunia.com dan akun Facebook Golagong New)