Jumat, 07 Oktober 2016

RESENSI BUKU Back To Tarbiyah: Qudwah Qobla Dakwah

  
Judul : Back To Tarbiyah
Penulis : Solikhin Abu Izzudin
Tahun Terbit : 2016
Penerbit : Pro U Media
Tebal Halaman : 328 halaman
 

Ihsanul-Fikri | Ustadz Solikhin menjadi pemateri di acara Pelatihan Dai Sekolah, diselenggarakan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT), di Soropadan Temanggung Jumat-Ahad (9-11/10/2016). Dalam pemaparannya Ustadz Solikhin banyak mengambil dari bukunya, Back To Tarbiyah. 

Kefuturan dan kebosanan dalam setiap aktivitas adalah hal yang wajar dialami setiap orang, guru, murid, pedagang, sopir, murabbi, mutarabbi dan siapapun. Lalu, bagaimana jika guru bosan terhadap muridnya, murid bosan akan ilmu, pedagang bosan akan pembeli, murabbi bosan akan mutarabbi, dan… mujahid bosan akan dakwahnya.

Futur yang dikatakan wajar, manakala kefuturan dan kebosanan itu juga dalam batas yang wajar yang tidak menyebabkan laju dakwah mengalami kemunduran.

Solikhin Abu Izzudin, penulis buku seri Tarbiyah dalam “Back To Tarbiyah” mencoba untuk menawarkan suplemen baru untuk menambah kecintaan para mujahid akan dakwah. Back To Tarbiyah adalah buku pelatihan praktis yang dengan membacanya Insya Allah kita bisa mengambil manfaat langsung dengan mengubah cara pandang, mengubah cara kita memahami tarbiyah, mengubah cara kita menata kehidupan, mengubah cara kita menyikapi masalah agar selalu hadir dalam inspirasi baru yang menyegarkan.

Imam Al Muzani berkata, Imam Syafi’I rahimahullah menasihati, “Barangsiapa mempelajari Al Quran maka nilainya akan meningkat. Barangsiapa mempelajari fiqih maka ia akan menjadi cerdas. Barang siapa mempelajari bahasa maka perangainya akan menjadi lembut. Barangsiapa mempelajari matematika maka idenya menjadi tajam. Barangsiapa menulis hadits maka hujjahnya akan kuat. Barangsiapa tidak memelihara diri maka ilmunya tidak akan berguna”. (Adabuddunya waddin, hal 165)

Dimanakah bentuk pelatihan praktisnya?

Di bagian awal Pak Sol (Penulis) mengajak kita seolah-olah perjalanan dakwah adalah sebuah perjalanan kereta cepat yang dimulai dari pemahaman terhadap karakter kereta. Dimana kereta dakwah ini adalah kereta dengan karakter ‘cepat’ untuk penumpang kelas ‘eksekutif’, bukan untuk penumpang kelas ekonomi.

Didalam perjalanan kereta dakwah ini, penulis mengajak agar sebelum berangkat berdoa dan meneguhkan niat yang sungguh serta menentukan tujuan yang akan dicapai yaitu beribadah kepada Allah SWT semata sesuai dengan syariatnya. Kemudian ditambah dengan membawa bekal yang berupa niat yang ikhlas, wara’ menjaga hal-hal yang bisa merusak muru’ah, ukhuwah, qudwah atau keteladanan dan istitho’ah yakni meningkatkan kemampuan sebagai asas untuk menunaikan syariah.

Setelah berangkat, hendaklah kita menikmati perjalanan ini serta tetaplah waspada dengan apa yang terjadi. Selama perjalanan pasti akan ada kerikil batu penghalang baik kecil maupun besar. Baik yang berbahaya maupun tidak yang berupa kebosanan yang disebabkan oleh jauhnya dari Al Qur’an. Dalam hal ini, Penulis menawarkan solusi untuk mengusir kebosanan yaitu dengan ‘menulis’.

Agar perjalanan ini menyenangkan, jadikanlah masalah-masalah dan batu kerikil ini menjadi barokah dengan cara meningkatkan kualitas, melakukan variasi amal unggulan dan melaukan proses pewarisan dengan menggiatkan kaderisasi kepemimpinan.

Perjalanan dakwah ini tidaklah sendirian. Pastilah sanak saudara dan handai taulan senantisa memegang erat tali ukhuwah untuk bersama-sama mewujudkan tujuan dakwah. Jadilah penumpang eksekutif. Penumpang teladan yang mengutamakan adab mulia dan rendah hati. Insan yang sebaik-baik penciptaan, insan yang mulia dalam perkataan dan insan yang baik dalam amalan.

Setelah perjalanan panjang yang dilalui penumpang eksekutif dengan kereta ekspress dan tercapail target dakwah, maka tetaplah setia dan kembali melanjutkan perjalanan dengan kereta ini. Jangan pernah terbersit untuk pindah kereta atau bahkan pindah rel, na’udzubillah.

Bersama kereta dakwah kita ditarbiyah untuk hidup berjamaah. Memadukan perbedaan dengan kekuatan. Mengisi kekurangan dengan kesabaran. Mensyukuri kelebihan dengan memberikan. Tarbiyah mendesain kehidupan menjadi lebih bermana. Tidak sekedar hidup. Perbedaan orang yang hidup dan orang yang mati ada pada kehidupan hatinya, imanya.

Pembaca yang dirahmati Allah, Pak Sol memotivasi penuh kepada pembacanya. Kita dilahirkan dalam kondisi sama, nol, zero, tidak punya apapun dan tida mengetahui apapun. Allah memberi kita pendengaran, penglihatan dan hati untuk kita syukuri. Bagaimana cara menggunakan potensi sebagai bentuk syukur? Mulailah dari apa yang ada, mulailah dari yang kita punya, dari yang terkecil, dari yang sederhana, dari yang termudah, dar yang kita bisa, dari diri sendiri dan dari yang bisa dimulai.

Maka, tetaplah di jalan tarbiyah. Karena di jalan halaqoh tarbawiyah mempunyai beberapa fungsi. Yaitu: fungsi ibadah, fungsi ilmiah, fungsi ruhiyah, fungsi himayah, fungsi ziyadah, fungsi tazkiyah, fungsi ukhuwah, fungsi hamasah dan fungsi mujahadah,

Pada akhirnya, buku Back To Tarbiyah adalah buku yang yang dikemas dengan bahasa yang fresh dan gress, penuh motivasi, segar dan haru agar kita bisa memasuki suasana hari-hari kita menjadi lebih indah dan menyenangkan. Sehingga buku ini sangatlah cocok untuk penawar hati-hati yang dilanda kefuturan dan kebosanan. Baik tua maupun muda. (Muthiatun)
  
Harga: Rp 54.000 (+ongkir)
Bagi Anda yang berminat dengan buku ini silakan Hubungi:
Ani: 0856 0216 5406