Selasa, 14 Februari 2017

Mengenal Valentine Bersama JUS MANGGA

YayasanIhsanulFikri.org | MAGELANG – Sebanyak 100 lebih siswa dan siswi SMA se-kota Magelang mengikuti kajian khusus munggu kedua (JUS MANGGA) yang rutin diadakan oleh KURMA (Keluarga Pelajar Islam Magelang) di Masjid SMP N 2 Kota Magelang pada hari Ahad kemarin (12/2). Kegiatan ini berlangsung dari jam 9.30 – 12.00 WIB.

Peserta sedang menyimak materi dari pengisi

Salah satu anggota penggerak KURMA sekaligus penanggung jawab kajian JUS MANGGA, Ustadzah Ummu menyampaikan kepada kami bahwa kajian kali ini mengangkat tema valentine agar para pelajar muslim mampu mengenal apa itu valentine dan tidak sekedar ikut-ikutan tren agar mendapatkan status sosial sebagai remaja gaul. Oleh karenanya perlu ada pemahaman tentang adab bergaul dengan lawan jenis dan kondisi pergaulan saat ini melalui kajian JUS MANGGA.

Kajian yang bertema “Kami Beda, Kami Bangga” diisi oleh Ustadz Susanto dan Ustadzah Lili dari Jogjakarta. Keduanya menyampaikan tentang sejarah valentine yang berawal dari Santo Valentinus, seorang pendeta yang menentang raja yang melarang semua laki-laki di wilayah kekuasaannya menikah. Sang raja meminta rakyatnya untuk turut serta dalam wajib militer dan ikut perang. Hal ini membuat Santo Valentinus gerah dan menentang kebijakan sang raja. Sang raja yang merasa tidak terima akhirnya memenjarakan Santo Valentinus dan di dalam penjara inilah cerita dimulai. Santo Valentinus yang dijaga dan dilayani oleh anak sipir penjara yang cantik membuatnya jatuh cinta. Lalu pada tanggal 14 Februari dimana seharusnya sang pendeta dieksekusi mati, ia menulis surat kepada sang anak sipir penjara yang isinya “you’re my valentine”. Sejak saat itu tanggal 14 Februari dikenang sebagai hari valentine sebagai penghormatan kepada pendeta Santo Valentinus.


Ustadzah Lili sedang menyampaikan tentang sejarah valentine

Dari kisah di atas, Ustadzah Lili yang juga berprofesi menjadi salah satu guru di Al Azhar Jogjakarta, menyampaikan bahwa perayaan 14 Februari ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan umat muslim dan tidak perlu dirayakan sebagai budaya muslim. Selain itu, budaya valentine hanya akan merusak kaum remaja Indonesia karena di dalam perayaannya sendiri haruslah antara laki-laki dan perempuan. Padahal sebagian orang yang merayakan hari valentine adalah remaja yang belum memiliki status sah sebagai suami dan istri. Ustadzah Lili juga menyampaikan untuk selalu mengisi waktu dengan hal-hal produktif, berteman dengan teman-teman yang muslim dan soleh/a serta senantiasa mempelajari quran sebagai pedoman hidup.

Salah satu peserta kajian dari SMA 4 Kota Magelang sedang menyampaikan pertanyaan

Pada sesi pertanyaan, salah seorang murid dari SMA 4 menanyakan bagaimana jika seorang remaja yang belum siap untuk menikah ketika mengalami jatuh cinta. Ustadz Susanto dan Ustadzah Lili menyampaikan bahwa pada usia remaja jatuh cinta adalah perasaan yang lumrah dan itu termasuk ke dalam fitrah. Maka untuk meredam perasaan tersebut seorang remaja muslim dapat mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat dan produktif. Dengan produktif, maka tidak akan ada lagi waktu untuk menggalau.

Tiga siswi dari SMA 4 dan SMA 3 yang aktif mengikuti kajian JUS MANGGA dan rohis di sekolahnya

Beberapa siswi yang kami temui juga menyampaikan hal yang senada, Yasmin (SMA 4), Annisa (SMA 3), dan Vivi (SMA 3). Mereka mengikuti rohis di sekolahnya masing-masing dan kajian JUS MANGGA sebagai salah satu bentuk pengisi waktu luang agar tidak sia-sia dengan budaya pacaran. Mereka juga mengaku bahwa dengan mengikuti kajian ini mereka menjadi paham sejarah valentine yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan islam dan tidak layak dijadikan budaya di kalangan pelajar di Indonesia terutama di Kota Magelang. (NYV)