Senin, 02 Desember 2019

Puncak Peringatan HUT PGRI ke- 74





MENDIKBUD DALAM HUT PGRI KE-74
Sabtu 30 November 2019 Mendikbud Nadiem Makarim hadir dalam Puncak Peringatan HUT PGRI ke-74 di Stadion Wibawa Mukti Bekasi, mewakili Pesiden RI yang biasanya pada tahun-tahun sebelumnya selalu hadir.

Dalam Pidatonya Nadiem yang mengenakan Jaket PGRI yang diserahkan Ibu Ketum PB PGRI Unifah Rosyidi (dibantu Ibu Franka Istri Mas Nadiem yang hadir mendampingi mengenakan Jaket PGRI) dengan model Jaket sesuai dengan Mas Nadiem yang muda, dan memulai pidatonya dengan mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun PGRI dan menyampaikan apresiasi yang sebesar besarnya kepada PGRI yang telah berpuluh-puluh tahun terus memperjuangkan hak, kualitas, dan kesejahteraan guru, dihadapan 38 ribu guru yang memadati Stadion Wibawa Mukti dengan batik seragam PGRI.

Mas Nadiem mengaku sempat pesimistis untuk memperbaiki dan meningkatakan kualitas pendidikan Indonesia yang diakui sangat rumit. Maka layak kalau Mas Nadiem sering menyatakan bahwa tugas Guru paling mulia tetapi sekaligus tersulit. Namun semua itu sirna ketika banyak bertemu dan berbincang dengan para guru dari berbagai daerah, apalagi mendengar kisah guru di lapangan yang sangat menginspirasi menjadikan optimis dan membangkitkan motivasi untuk memperbaiki pendidikan, kata Mas Nadiem. 
Ada beberapa hal penting dalam pidato yang singkat tanpa basa basi a.l :
1. Nadiem mengatakan bahwa pidatonya pada Hari Guru Nasional 2019 adalah didasarkan pada apa-apa yang disampaikan para guru dan fakta dilapangan. Untuk itu apa yang di sampaikan dalam HGN tersebut adalah pekerjaan rumah (PR) bagi Kemendikbud. Mas Nadiem menegaskan lagi "Itu PR berat, PR yang kami mohon kesabarannya bagi semua guru, dan kami berjanji akan melaksanakan semua itu dengan baik, terstruktur, tetapi tidak boleh tergesa-gesa.
2. Dalam pidato HGN saya sampaikan bahwa Guru ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Guru habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas, maka saya akan menyederhanakan beberapa hal terkait administrasi, kata Nadiem.
Namun Mas Nadiem meminta kesabaran kepada guru agar perubahan itu bisa tercipta. Bahkan dengan tegas mengatakan kalau Bapak-Ibu guru ingin perubahan, perubahan harus dilakukan dengan cara baik, dengan planning baik, dengan strategi yang baik. Sekali lagi Mas Nadim mengatakan mohon kesabaran Bapak-Ibu, dengan santun.
Saya janji, bahwa dari atas kami akan bergerak untuk menyederhanakan aturan, menyederhanakan administrasi, menyederhanakan kurikulum, dan menyederhanakan berbagai macam assessment. 
Untuk itu beri kami masukan/ input dan beri kami waktu untuk melakukan itu.
3. Guru Penggerak, kata Mas Nadiem bahwa setiap saya bertemu guru di berbagai daerah, mereka menjanjikan, Mas Menteri saya jamin bahwa disetiap satu sekolah pasti ada guru penggerak yang akan melakukan perubahan demi muridnya. Itulah yang membuat saya yakin apabila guru bergerak akan terjadi perubahan.
Gerakan harus dimulai dari atas dan dari bawah, pemerintah dan guru.
4. Ada yang menarik juga walaupun Mas Nadiem hanya menyatakan sedikit bahwa kreativitas guru harus didukung oleh kesejahteraan Guru. Hal tersebut sebagaimana awal dilantik menyatakan bahwa untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan berkarakter hanya bisa dilakukan oleh guru yang kapabel dan sejahtera.
5. Di akhir pidatonya, mas Nadiem mengingatkan kepada Kepala Sekolah untuk mengubah paradigma kepemimpinannya, dari regulator dan mengawasi menjadi melayani dan membantu guru dan siswa.
Guru harus diberi kepercayaan untuk mengajar dan mendidik, agar kita menang di panggung dunia. (Muhdi, Ket.Prov. PGRI Jateng)

Dokumentasi Rombongan kota Magelang
Sumber: Niko Brahmanto